“Syafrudin, sang pelukis”
Pembelajaran
dimulai seperti biasanya dikelas III B, sebelum masuk semua siswa mengucapkan
salam pada seorang guru. Setelah mendengar ucapan lembut dari siswanya, dengan
santun sang guru membalas ucapan salam dari murid-muridnya. Pembelajaran agama
dimulai dengan membaca setiap hafalan yang dimiliki setiap siswa.Dengan tanda
hitam dikeningnya setiap anak memperhatikan paras yang ada dihadapan mereka.
Terkadang sedang pembelajaran berlangsung sebagian anak menanyakan hal
tersebut, “Pak kenapa keningnya ada tanda hitam,, kayak shaolin pak…“ ujar
seorang siswa. Dengan seketika semua wajah-wajah lugu dihadapan guru tersebut
tertwa bersama-sama.
Dengan
tersenyum, guru tersebut menjawab pertanyaannya dengan candaan. “Hemm..kenapa
ya? Bapak juga ga tau kenapa,, kita lanjutkan lagi ya belajarnya?” dengan
seketika siswa-siswanya mengiyakan “iya pak,,,”. Pembelajaran dimulai kembali
sesuai dengan rencana pembelajaran yang dibuat oleh guru tersebut.
Dalam
kelas tersebut duduklah seorang anak yang selalu mengambil perhatian guru
tersebut semenjak awal kedatangnya ke SDN Parung 01 bogor. Diawal pertemuan
dengannya, sang guru menanyakan ke dalam dirinya kenapa dengan siswa ini?
Kenapa dia sering menulis sesuatu dibuku-bukunya?.Dia tertutup dan belum bisa
didekatin.Kemudian dengan sedikit-sedikit pendekatan dalam pembelajaran,
diketahuilah bahwa dia adalah syafridin.
Setelah
mengetahui namanya, sang guru terus memperhatikannya walaupun siswa tersebut
tidak pernah memperhatikan guru tersebut. Ketika mencoba ingin mengetahui apa
yang terjadi dengannya, syafridin tidak terlalu menyikapinya dengan baik
pendekatan yang dilakukan oleh gurunya.
Suatu
ketika pembelajaran yang dilakukan dikelas tersebut, mengharuskan setiap siswa
ikut terlibat dalam kelompok pembelajaran. Pembagian tersebut dilakukan dengan
cara hitungan. “Hitungan dimulai dari hafidz… dan berakhir di syafridin…”
perintah sang guru. Kemudian siswa-siswa memulai hitungan tersebut dengan
batasan hitungan 1-8. Setelah pengelompokan dibentuk setiap siswa mencari
kelompok yang nomornya sama, dengan seketika kelas menjadi gaduh karena setiap
siswa mencari kelompok yang nomornya sama.
“kelompok
1 dimana… sini kelompok satu” ujar seorang siswa. Tidak kalah juga kelompok 2-8
semuanya berteriak-teriak mencari teman sekelompoknya.Setelah mereka menemukan
teman-teman sekelompoknya, mereka menempati bangku yang sudah ditentukan guru
tersebut. Disudut lain, sang guru melihat anak yang dari awal menyita
perhatiannya itu. Hem,,,Ya dialah Sayfridin,… dengan tenang syafridin menghampiri
kelompok yang sama dengan nomor yang disebutkannya.
Ntah
apa yang terjadi dengan guru agama tersebut, tiba-tiba marah dengan sangat
karena melihat gaya syafridin yang gontai seperti yang ga mau belajar ketika
menghampiri kelompoknya. Syafridin yang tidak tahu menahu apa yang terjadi
dengan gurunya hanya diam dengan rasa takut. Setelah duduk di kelompoknya, guru
tersebut memarahi setiap siswa yang terlihat ogah-ogahan dalam pembelajaran
yang dibawanya.
Kemudian
guru tersebut mengadili syafridin yang dengan kepolosannya dihadapan
teman-temannya. “syafridin.. kenapa kamu ?! kamu malas belajar?! Bapak lihat
dari tadi kamu selalu tidak memperhatikan bapak yang sedang mengajar.Dari awal
bapak masuk ke kelas ini, bapak lihat kamu selalu menggambar saja, tidak
menulis materi yang bapak tulis. Ada apa sih dengan kamu? Kamu tidaksuka dengan
bapak ngajar disini?Sudah kamu diam saja jangan ikut pembelajaran bapak, hari
ini bapak lihat kamu menggambar lagi.Sekarang pelajaran agama, bukan menggambar
simpan buku gambarnya.”
Pembelajaran
hari itu gagal mencapai tujuan pembelajaran, waktu yang tersedia habis dipakai
untuk mengadili siswa yang beranama syafridin.Meskipun syafridin yang di
marahin, namun siswa yang lainnya ikut merasakan yang dialami oleh
syafridin.Dengan seketika kelas menjadi hening, yang awalnya mereka senang
dengan pembelajaran yang fun seketika berubah menjadi “pengadilan umum” yang
dilakukan oleh guru tersebut.
Setelah
kejadian dikelas, guru tersebut menuju perpustakaan.bukan untuk membaca buku,
namun beristirahat dari peliknya pembelajran yang baru sja dilakukan. Perpustakaan
tersebut merupakan tempat merehatkan badan karena ada bagain dari perpustaakn
yang didesaign untuk bisa berbaring. Guru tersebut merenungkan apa yang baru
saja terjadi, “kenapa saya bersikap seperti itu? Kenapa saya tega mengadili
anak selugu itu?Kenapa saya jadi seperti ini?Pelajaran diperkuliahan tidak saya
terapkan” gumamnya dalam hati.
Setelah
reda, guru tersebut menuju kantor tempatnya menyimpan setiap arsip-arsip
pembelajaran. Sesampainya dikantor ada keramaiaan yang terjadi. “haha… hebat juga
anak itu… baru kelas III sudah kepikiran seperti itu dan berimajinasi tinggi… “
ucap seorang guru di kantor guru-guru. “eh ada pak toto kebetulan,, Pak toto
sini cepetan,,, liat ini … bagus ga pak menurut pak toto?,…” Tanya seorang
guru.Bu darsih namanya, dia wali kelas dari siswa yang dimarahin oleh guru
tersebut.
Dengan
antusiasnya guru tersebut mengenalkan hasil karya siswanya. “Pak toto anak
kelas saya menggambar, ni lihat gambaranya..dia menggambar bapak yang sedang
mengajar.. tuh pak lihat, ada nama pak totonya lagi di bagian jas yang
digambarnya” jelas bu darsih. Dengan senengnya pak toto melihat dirinya yang
dilukis oleh siswa tingkat rendah (kelas III).Dalam benaknya mendoakan agar
anak tersebut menjadi pelukis kelak ketika dewasanya. Ketika masih kagum dengan
gambar yang dihadapannya tiba-tiba “pak tau ga ini siapa yang menggambarnya?...
dia siswa kelas III B kelas saya pak… “ tambah bu darsih menjelaskan. “emang
siapa bu nama anak yang menggambar ini?... mungkin saya mengenalnya?...” ujar pak
toto.
“Dia
namanya syafridin kelas III B yang duduknya di belakang yang suka diem terus….”
Jawab bu darsih.“ siapa bu? syafridin? Anak kelas III B?” ucap pak toto dengan
terkaget.“ Iya pak.. syafridin kelas III B, bukannya tadi bapak ngajar di kelas
tersebut, ya kan?,,, ini tadi dia buat ketika bapak lagi ngajar katanya… kenapa
pak toto kayak yang kaget gitu” jawab kembali bu darsih. “ gpp bu, iya tadi saya
ngajar di kelas ibu,, syafridin ga menceritakan yang lainnya bu?” Tanya pak
toto kembali. “ngga pak dia Cuma memperlihatkan gambar yang dibuatnya, dia
minta agar gambarnya di nilai oleh saya” jawab bu darsih dengan keheranan.
“berarti yang tadi sedang digambaranya waktu pembelajaran adalah diri saya yang
sedang mengajar, betapa jahatnya diri ini memarahi anak yang hebat itu” gumam
pak toto dalam hatinya.
Tanpa
menghiraukan pertanyaan dari bu darsih, pak toto langsung berangkat menuju
kelas III B yang tidak jauh dari ruangan kantor. Dia mencari wajah lugu yang
menggambar dirinya, wajah yang muram karena dimarahin tanpa diketahui apa
salahnya. Setelah sampainya dikelas III B syafridin pun tidak ada diruangan,
karena waktunya jam istirahat kemungkinan dia sedang bermain atau jajan ke
kantin. Kemudian pak toto menuju tempat-tempat dimana syafridin sering bermain
dengan temannya.Setelah berkeliling sekolah ternyata syafridin tidak ada.
Dengan gontai pak toto menuju perpustakaan tempat dimana ia sering
beristirahat. Dalam perjalanan menuju perpustakaan, pak toto memikirkan apa
yang dilakukannya ketika pembelajaran dikelas tadi? Kenapa dia melakukannya?
Dia merasa akan semakin sulit untuk mendekati syafridin yang memang sulit
berbagi dengannya.
Sesampainya
diperpustakaan, banyak anak-anak yang sedang mengunjungi perpustakaan.Pak toto
berharap ada syafridin disana, “semoga syafridin ada di perpustakaan…” gumamnya
dalam hati.Ketika sesampainya diperpustakaan, dia melihat sosok yang sedang
menyendiri dan sedang asyik menggambar serta memadukan warnanya.Dari kejauhan
pak toto melihat wajah lugu itu dengan senyuman dan perasaan berasalah.“Anak
bersih seperti ini, kau marahin wahai jasad yang kotor, berani-beraninya
pembuat keasalahan memarahi anak yang tanpa dosa” gumamnya dalam hati.
Pak
toto menghampirinya, dari sisi lain syafridin merapihkan buku gambarnya yang
lain dan peralatan gambarnya. Setelah melihat guru yang telah memarahinya
syafridin kemudian menjauh dan menghindar dari gurunya tersebut. Dengan cepat
pak toto memeluk anak mungil itu sambil berkata “syafridin,,, maaf kan bapak..
maafkan bapak yang sudah memarahi syafridin tadi… syafridin mau maafkan
bapak?”. “ iya pak, syafridin memaafkan bapak ko,,, syafridin sayang sama
bapak… maafin syafridin juga ya pak,,, syafridin nakal sampai-sampai bapak
marahin syafridin” jawab syafridin dengan lugunya. “ iya sayang, bapak juga
sangat sayang sama syafridin. Tanpa disadarinya pak toto meneteskan air matanya
karena perasaan menyesal telah memarahinya. Semakin erat pelukan sang guru
tersebut pada siswa yang telah menyayanginya. “seharusnya saya yang menyayangi
anak ini dan teman-temannya,,, tidak egois dan memandang sebelah mata... setiap
anak..kenapa saya tidak memperhatikan pelajaran yang ada dikuliahnya tentang
hal seperti ini” gumam pak toto dalam hatinya...
