Cerpen Pendidikan

Sabtu, 06 September 2014

Syafrudin, sang pelukis (Part I)



“Syafrudin, sang pelukis”

Pembelajaran dimulai seperti biasanya dikelas III B, sebelum masuk semua siswa mengucapkan salam pada seorang guru. Setelah mendengar ucapan lembut dari siswanya, dengan santun sang guru membalas ucapan salam dari murid-muridnya. Pembelajaran agama dimulai dengan membaca setiap hafalan yang dimiliki setiap siswa.Dengan tanda hitam dikeningnya setiap anak memperhatikan paras yang ada dihadapan mereka. Terkadang sedang pembelajaran berlangsung sebagian anak menanyakan hal tersebut, “Pak kenapa keningnya ada tanda hitam,, kayak shaolin pak…“ ujar seorang siswa. Dengan seketika semua wajah-wajah lugu dihadapan guru tersebut tertwa bersama-sama.
Dengan tersenyum, guru tersebut menjawab pertanyaannya dengan candaan. “Hemm..kenapa ya? Bapak juga ga tau kenapa,, kita lanjutkan lagi ya belajarnya?” dengan seketika siswa-siswanya mengiyakan “iya pak,,,”. Pembelajaran dimulai kembali sesuai dengan rencana pembelajaran yang dibuat oleh guru tersebut.
Dalam kelas tersebut duduklah seorang anak yang selalu mengambil perhatian guru tersebut semenjak awal kedatangnya ke SDN Parung 01 bogor. Diawal pertemuan dengannya, sang guru menanyakan ke dalam dirinya kenapa dengan siswa ini? Kenapa dia sering menulis sesuatu dibuku-bukunya?.Dia tertutup dan belum bisa didekatin.Kemudian dengan sedikit-sedikit pendekatan dalam pembelajaran, diketahuilah bahwa dia adalah syafridin.
Setelah mengetahui namanya, sang guru terus memperhatikannya walaupun siswa tersebut tidak pernah memperhatikan guru tersebut. Ketika mencoba ingin mengetahui apa yang terjadi dengannya, syafridin tidak terlalu menyikapinya dengan baik pendekatan yang dilakukan oleh gurunya.
Suatu ketika pembelajaran yang dilakukan dikelas tersebut, mengharuskan setiap siswa ikut terlibat dalam kelompok pembelajaran. Pembagian tersebut dilakukan dengan cara hitungan. “Hitungan dimulai dari hafidz… dan berakhir di syafridin…” perintah sang guru. Kemudian siswa-siswa memulai hitungan tersebut dengan batasan hitungan 1-8. Setelah pengelompokan dibentuk setiap siswa mencari kelompok yang nomornya sama, dengan seketika kelas menjadi gaduh karena setiap siswa mencari kelompok yang nomornya sama.
“kelompok 1 dimana… sini kelompok satu” ujar seorang siswa. Tidak kalah juga kelompok 2-8 semuanya berteriak-teriak mencari teman sekelompoknya.Setelah mereka menemukan teman-teman sekelompoknya, mereka menempati bangku yang sudah ditentukan guru tersebut. Disudut lain, sang guru melihat anak yang dari awal menyita perhatiannya itu. Hem,,,Ya dialah Sayfridin,… dengan tenang syafridin menghampiri kelompok yang sama dengan nomor yang disebutkannya.
Ntah apa yang terjadi dengan guru agama tersebut, tiba-tiba marah dengan sangat karena melihat gaya syafridin yang gontai seperti yang ga mau belajar ketika menghampiri kelompoknya. Syafridin yang tidak tahu menahu apa yang terjadi dengan gurunya hanya diam dengan rasa takut. Setelah duduk di kelompoknya, guru tersebut memarahi setiap siswa yang terlihat ogah-ogahan dalam pembelajaran yang dibawanya.
Kemudian guru tersebut mengadili syafridin yang dengan kepolosannya dihadapan teman-temannya. “syafridin.. kenapa kamu ?! kamu malas belajar?! Bapak lihat dari tadi kamu selalu tidak memperhatikan bapak yang sedang mengajar.Dari awal bapak masuk ke kelas ini, bapak lihat kamu selalu menggambar saja, tidak menulis materi yang bapak tulis. Ada apa sih dengan kamu? Kamu tidaksuka dengan bapak ngajar disini?Sudah kamu diam saja jangan ikut pembelajaran bapak, hari ini bapak lihat kamu menggambar lagi.Sekarang pelajaran agama, bukan menggambar simpan buku gambarnya.”
Pembelajaran hari itu gagal mencapai tujuan pembelajaran, waktu yang tersedia habis dipakai untuk mengadili siswa yang beranama syafridin.Meskipun syafridin yang di marahin, namun siswa yang lainnya ikut merasakan yang dialami oleh syafridin.Dengan seketika kelas menjadi hening, yang awalnya mereka senang dengan pembelajaran yang fun seketika berubah menjadi “pengadilan umum” yang dilakukan oleh guru tersebut.
Setelah kejadian dikelas, guru tersebut menuju perpustakaan.bukan untuk membaca buku, namun beristirahat dari peliknya pembelajran yang baru sja dilakukan. Perpustakaan tersebut merupakan tempat merehatkan badan karena ada bagain dari perpustaakn yang didesaign untuk bisa berbaring. Guru tersebut merenungkan apa yang baru saja terjadi, “kenapa saya bersikap seperti itu? Kenapa saya tega mengadili anak selugu itu?Kenapa saya jadi seperti ini?Pelajaran diperkuliahan tidak saya terapkan” gumamnya dalam hati.
Setelah reda, guru tersebut menuju kantor tempatnya menyimpan setiap arsip-arsip pembelajaran. Sesampainya dikantor ada keramaiaan yang terjadi. “haha… hebat juga anak itu… baru kelas III sudah kepikiran seperti itu dan berimajinasi tinggi… “ ucap seorang guru di kantor guru-guru. “eh ada pak toto kebetulan,, Pak toto sini cepetan,,, liat ini … bagus ga pak menurut pak toto?,…” Tanya seorang guru.Bu darsih namanya, dia wali kelas dari siswa yang dimarahin oleh guru tersebut.
Dengan antusiasnya guru tersebut mengenalkan hasil karya siswanya. “Pak toto anak kelas saya menggambar, ni lihat gambaranya..dia menggambar bapak yang sedang mengajar.. tuh pak lihat, ada nama pak totonya lagi di bagian jas yang digambarnya” jelas bu darsih. Dengan senengnya pak toto melihat dirinya yang dilukis oleh siswa tingkat rendah (kelas III).Dalam benaknya mendoakan agar anak tersebut menjadi pelukis kelak ketika dewasanya. Ketika masih kagum dengan gambar yang dihadapannya tiba-tiba “pak tau ga ini siapa yang menggambarnya?... dia siswa kelas III B kelas saya pak… “ tambah bu darsih menjelaskan. “emang siapa bu nama anak yang menggambar ini?... mungkin saya mengenalnya?...” ujar pak toto.
“Dia namanya syafridin kelas III B yang duduknya di belakang yang suka diem terus….” Jawab bu darsih.“ siapa bu? syafridin? Anak kelas III B?” ucap pak toto dengan terkaget.“ Iya pak.. syafridin kelas III B, bukannya tadi bapak ngajar di kelas tersebut, ya kan?,,, ini tadi dia buat ketika bapak lagi ngajar katanya… kenapa pak toto kayak yang kaget gitu” jawab kembali bu darsih. “ gpp bu, iya tadi saya ngajar di kelas ibu,, syafridin ga menceritakan yang lainnya bu?” Tanya pak toto kembali. “ngga pak dia Cuma memperlihatkan gambar yang dibuatnya, dia minta agar gambarnya di nilai oleh saya” jawab bu darsih dengan keheranan. “berarti yang tadi sedang digambaranya waktu pembelajaran adalah diri saya yang sedang mengajar, betapa jahatnya diri ini memarahi anak yang hebat itu” gumam pak toto dalam hatinya.
Tanpa menghiraukan pertanyaan dari bu darsih, pak toto langsung berangkat menuju kelas III B yang tidak jauh dari ruangan kantor. Dia mencari wajah lugu yang menggambar dirinya, wajah yang muram karena dimarahin tanpa diketahui apa salahnya. Setelah sampainya dikelas III B syafridin pun tidak ada diruangan, karena waktunya jam istirahat kemungkinan dia sedang bermain atau jajan ke kantin. Kemudian pak toto menuju tempat-tempat dimana syafridin sering bermain dengan temannya.Setelah berkeliling sekolah ternyata syafridin tidak ada. Dengan gontai pak toto menuju perpustakaan tempat dimana ia sering beristirahat. Dalam perjalanan menuju perpustakaan, pak toto memikirkan apa yang dilakukannya ketika pembelajaran dikelas tadi? Kenapa dia melakukannya? Dia merasa akan semakin sulit untuk mendekati syafridin yang memang sulit berbagi dengannya.
Sesampainya diperpustakaan, banyak anak-anak yang sedang mengunjungi perpustakaan.Pak toto berharap ada syafridin disana, “semoga syafridin ada di perpustakaan…” gumamnya dalam hati.Ketika sesampainya diperpustakaan, dia melihat sosok yang sedang menyendiri dan sedang asyik menggambar serta memadukan warnanya.Dari kejauhan pak toto melihat wajah lugu itu dengan senyuman dan perasaan berasalah.“Anak bersih seperti ini, kau marahin wahai jasad yang kotor, berani-beraninya pembuat keasalahan memarahi anak yang tanpa dosa” gumamnya dalam hati.
Pak toto menghampirinya, dari sisi lain syafridin merapihkan buku gambarnya yang lain dan peralatan gambarnya. Setelah melihat guru yang telah memarahinya syafridin kemudian menjauh dan menghindar dari gurunya tersebut. Dengan cepat pak toto memeluk anak mungil itu sambil berkata “syafridin,,, maaf kan bapak.. maafkan bapak yang sudah memarahi syafridin tadi… syafridin mau maafkan bapak?”. “ iya pak, syafridin memaafkan bapak ko,,, syafridin sayang sama bapak… maafin syafridin juga ya pak,,, syafridin nakal sampai-sampai bapak marahin syafridin” jawab syafridin dengan lugunya. “ iya sayang, bapak juga sangat sayang sama syafridin. Tanpa disadarinya pak toto meneteskan air matanya karena perasaan menyesal telah memarahinya. Semakin erat pelukan sang guru tersebut pada siswa yang telah menyayanginya. “seharusnya saya yang menyayangi anak ini dan teman-temannya,,, tidak egois dan memandang sebelah mata... setiap anak..kenapa saya tidak memperhatikan pelajaran yang ada dikuliahnya tentang hal seperti ini” gumam pak toto dalam hatinya...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar